Segores Narasi di Balik Sehelai Batik

Untuk Edward Hutabarat, pembatik diibaratkan semacam bedaya Bedoyo yang wajib ketahui gimana memadukan aksi dengan buaian klonengan. Seseorang bedaya Bedoyo pula wajib ketahui apa maksud di balik melirik yang dinyanyikan para sinden.

Begitu pula para pembatik, kala menyiram canting dengan malam, seseorang pembatik wajib ketahui benar seberapa panas malamnya. Pembatik juga pula wajib ketahui seberapa banyak ia wajib memuat cantingnya, hingga seberapa kokoh tiupannya ke akhir canting.

Cara ekspedisi suatu kain jadi kain batik catat yang tidak hanya bagus tetapi sarat arti, impian, serta berkah tidak terjalin dalam durasi yang pendek. Terdapat banyak cara yang wajib dilewati buat membuat batik catat dari dini hingga akhir.

Bukan hanya prosesnya yang membuat harga selembar kain batik memiliki harga mahal. Tetapi seni, berkah, integritas, serta jiwa yang melampiri dalam masing- masing goresannya yang buatnya jadi tidak berharga biayanya.

Di balik bidikan lensanya, Edward Hutabarat mau menyuarakan kalau batik tidaklah gaya. Batik bukan fesyen, terlebih kain konvensional. Batik merupakan kain peradaban bangsa yang terbuat dengan cara beradat serta sarat arti.

baca juga : pabrik batik

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *